WELCOME

SELAMAT DATANG DI BLOG 2F4 ILMU KOMUNIKASI

Selasa, 29 Mei 2012

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB II
PEMBAHASAN

      1)  PENGERTIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Menurut Wikipedia Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final. Keluarannya bisa berupa suatu tindakan (aksi) atau suatu opini terhadap pilihan.[1] Dengan kata lain Pengambilan Keputusan adalah Pemilihan alternatif solusi untuk suatu masalah.[2] Dimana pikiran kita menentukan keputusan yang kita ambil. Serta keputusan harus diikuti dengan tindakan jika diharapkan menimbulkan dampak dari efek yang langgeng.[3]

2)      JENIS KEPUTUSAN DAN PERMASALAHAN
Jenis keputusan (decision) merupakan pilihan yang dibuat dari sejumlah alternatif yang ada. Banyak orang yang mengasumsikan bahwa pemilihan alternatif adalah bagian utama dari pengambilan keputusan ,namun sebenarnya itu hanyalah satu bagian saja.
Pengambilan keputusan merupakan proses identifikasi permasalahan dan peluang, kemudian menyelesaikannya.pengambilan keputusan melibatkan usaha sebelum dan sesudah pilihan dan aktualnya. Jadi, keputusan adalah apakah akan memilih bill.
A. Keputusan Terprogram dan Tidak Terprogram
Keputusan manajemen umumnya dibagi kedalam  dua kategori terprogram dan tidak terprogram. Keputusan terprogram adalah keputusan yang diambil untuk merespon situasi yang timbul cukup  sering, untuk membuat aturan pengambilan keputusan dikembangkan dan diaplikasi dimasa depan. Keputusan terprogram dibuat sebagai respon terhadap permasalahan yang timbul di organisasi. Keputusan tidak terprogram adalah  keputusan yang diambil untuk merespon situasi yang unik tidak terjelaskan dengan baik dan sebagian besar tidak berstruktur dan memiliki konsekuensi penting bagi organisasi. Keputusan tidak terprogram melibatkan perencanaan strategis karena ketidakpastiannya tinggi dan keputusan bersifat kompleks.keputusan untuk membuat pabrik baru, mengembangkan produk atau layanan baru memasuki pasar geografis  baru atau merelokasi kantor pusat kekota lain semuanya merupakan keputusan tidak terprogram.
B. Kepastian, Risikio, Ketidakpastian dan Ambiguitas
Perbedaan utama antara keputusan terprogram dan tidak terprogram berkaitan dengan tingkat kepastian dan tidak kepastian yang dihadapi manager dalam mengambil keputusan. Setiap situasi keputusan dapat diatur sesuai tingkatannya menurut ketersediaan informasi dan kemungkinan kegagalan. Empat posisi dalam tingkat ini adalah kepastian ,risiko,ketidak pastian dan ambiguitas.
Kepastian berarti seluruh informasi yang dibutuhkan pengambilan keputusan tersedia, manager memiliki informasi dalam kondisi operasi, biaya atau batasan sumber daya, jika sebuah perusahaan mempertimbangkan investasi $10.000 diperalatan baru yang diketahuinya dengan jelas akan menghasilkan penghematan sebesar $4.000 setiap tahun selama lima tahun berikutnya, manager menghuitung tingkat pengembalian sebelum pajak sebesar 40%. Jika manager membandingkan investasi ini dengan investasi lain yang hanya menghasilkan penghematan biaya  sebesar $3.00 maka mereka dengan dengan yakin dapat memilih alternatif yang menghasilkan $4.000.Namun hanya sedikit keputusan yang pasti didunia ini. Sebagian besar mengandung resiko dan ketidakpastian.
Risiko berarti bahwa keputusan memiliki tujuan yang jelas dan informasi dalam kondisi operasi yang tersedia dengan baik namun dengan hasil dimasa depan yang dihubungkan dengan setiap alternatif ditentukan oleh peluang masing-masing. Walaupun begitu, ketersediaan informasi yang cukup membuat tingkat kemungkinan dari keberhasilan untuk tiap alternatif dapat diukur. Analisa statistik dapat digunakan untuk menghitung kemungkinan keberhasilan atau kegagalan. Pengukuran risiko menangkap kemungkinan peristiwa dimasa depan yang mengakibatkan kegagalan alternatif.
Ketidakpastian berarti bahwa manager tahu tujuan mana yang hendak mereka capai, namun informasi tentang alternatif dan peristiwa dimasa depan tidak lengkap. Manager tidak memiki informasi yang tidak cukup untuk memperoleh kejelasan tentang alternatif atau untuk mengukur resiko mereka. Faktor yang dapat dapat memengaruhi keputusan seperti harga,biaya produksi,volume,atau tingkat suku bunga masa depan adalah hal-hal yang sulit dianalisa dan diprediksi. Manager mungkin mungkin harus membuat asumsi untuk digunakan dalam pembuatan keputusan walaupun keputusanyang diambil salah jika asumsi yang digunakan tidak tepat. Manager mungkin harus menggunakan pendekatan alternatif yang kreatif dan menggunakan penilaian pribadi untuk menentukan alternatif terbaik.
Ambiguitas sejauh ini merupakan situasi keputusan yang paling sulit. Ambiguitas berarti bahwa tujuan yang harus dicapai atau permasalahan yang harus diselesaikan tidak jelas sifatnya dan alternative sulit didefinisikan dan informasi tentang hasil tidak tersedia. Ambiguitas sering disebut sebagai problema keputusan yang ”jahat”. Manager mengalami masa yang sulit untuk merengkuh isu-isu. Permasalahan yang jahat ini diasosiasikan dengan konflik manager atas alternatif tujuan dan keputusan, perubahan keadaan yang cepat,informasi yang membingungkan dan hubungan yang tidak jelas.[4]

3)      MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pendekatan yang digunakan manajer  untuk mengambil keputusan dibagi kedalam tiga jenis, yakni model klasik, model administratif, dan model politis.
A.    Model Klasik
Dari pengambilan keputusan didasarkan pada asumsi ekonomi. Model ini telah timbul pada literatur manajemen karena manajer diharapkan untuk mengambil keputusan yang rasional secara ekonomis dan kepentingan ekonomi terbaik organisasi. Asumsi yang mendasari model ini adalah sebagai berikut :
1.      Pengambilan keputusan bertindak untuk mencapai tujuan yang diketahui dan disepakati. Permasalahan secara rinci diformulasikan dan didefinisikan.
2.      Pengambilan keputusan mengusahakan kondisi kepastian, dengan mengumpulkan seluruh informasi. Semua alternatif dan hasil yang potensial dari setiap informasi dihitung.
3.      Kriteria untuk mengevaluasi alternatif diketahui. Pengambilan keputusan memilih alternatif yang akan memaksimalkan pengambilan secara ekonomi kepada organisasi.
4.      Pengambilan keputusan adalah orang yang rasional dan menggunakan logika dalam menentukan nilai, kesukaan, dan menggunakan keputusan yang akan memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi.
Model ini mendefinisikan bagaimana pengambilan keputusan sebaiknya membuat keputusan. Nilai dari model klasik selama ini adalah kemampuannya untuk membantu pengambilan keputusan menjadi lebih rasional. Dalam banyak hal, model klasik menggambarkan model ideal dari model pengambilan keputusan yang seringkali tidak dapat dicapai oleh karyawan sebenarnya di organisasi yang sesungguhnya. Model ini paling berharga ketika diaplikasikan pada keputusan terprogram dan pada keputusan yang dikarakteristikkan oleh kepastian atau resiko, karena informasi yang relevan tersedia dan kemungkinan dapat diukur.
B.     Model Administrasi
Dari pengambilan keputusan menggambarkan bagaimana manajer sesungguhnya membuat keputusan di situasi yang sulit, seperti yang dikarakteristikkan oleh keputusan tidak terprogram, ketidakpastian, dan ambiguitas.
Rasionalitas Terbatas dan Pemenuhan. Model administrative dari pengambilan keputusan didasarkan oleh teori Herbert A. Simon. Simon mengusulkan dua konsep yang instrumental dalam pembentukan model administrative: rasionalitas terbatas dan pemenuhan. Rasionalitas terbatas berarti bahwa setiap orang memiliki keterbatasan, tentang seberapa mampu mereka menjadi rasional. Organisasi bersifat luar biasa kompleks, dan manajer mempunyai waktu dan kemampuan untuk memproses hanya sejumlah informasi yang terbatas yang digunakan untuk membuat keputusan.
Pemenuhan berarti pengambilan keputusan memilih alternative solusi pertama yang memenuhi criteria keputusan minimal.
Model administrative bergantung pada asumsi yang berbeda, dari model klasik dan berfokus pada factor organisasi yang mempengaruhi keputusan individu. Menurut model administrative :
1.      Tujuan keputusan seringkali bersifat samar, berlawanan, dan kurang kesepakatan diantara manajer. Manajer sering tidak menyadari permasalahan atau kesempatan yang ada di organisasi.
2.      Prosedur rasioanal tidak selalu digunakan, dan jika ya, hal ini dibatasi oleh pandanga paling sederhana atas permasalahn yang tidak menangkap kompleksitas peristiwa organisasi yang sesungguhnya.
3.      Pencarian manajer atas alternative terbatas karena masalh manusia, informasi, dan sumber daya.
4.      Banyak manajer memilih pemenuhan daripada solusi maksimalisasi. Hal ini sebagian disebabkan oleh keterbatasan informasi yang mereka miliki, dan sebagian lagi disebabkan oleh criteria samar yang mereka milikitentang apa yang membentuk sebuah solusi maksimalisasi.
Model administrative dianggap sebagai sebagai deskriptif, berarti bahwa model ini menjelaskan bagaimana manajer sesungguhnya mengambil keputusan pada situasi yang kompleks dibandingkan dengan mendikte bagaimana mereka seharusnya mengambil keputusan menurut kondisi ideal yang teoretis. Model ini menyadari keterbatasan manusia dan lingkungan yang mempengaruhi tingkatan para manajer untuk dapat menjalankan proses pengambilan keputusan yang rasional.
Intuisi. Aspek lain dari pengambilan keputusan administrative adalah intuisi yang melambangakan penggambaran singkat dari situasi sebuah keputusan berdasarkan pengalaman masa lalu namu tanpa pikiran yang sadar.
C.    Model Politis
Model ketiga dari pengambilan keputusan berguna dalam pembuatan keputusan tidak terprogram ketika kondisi tidak pasti, informasi terbatas, dan terdapat ketidaksepakatan antara manajer tentang tujuan mana yang harus dicapai atau arah tindakan apa yang harus diambil. Manajer sering terlibat dalam pembentukan koalisi untuk membuat keputusan organisasi yang kompleks. Koalisi merupakan pembentukan aliansi informal di antara manajer yang mendukung tujuan tertentu. Pembentukan koalisi adalah proses pembentukan aliansi antara manajer. Dengan kata lain, seorang manajer yang mendukung alternative tertentu, seperti meningkatka pertumbuhan perusahaan dengan mengakuisisi perusahaan lain, berbincang secara informal dengan eksekutif lainnya dan berusaha membujuk mereka untuk mendukung keputusan itu.
Ada empat asumsi dasar dari model politis :
1.      Organisasi dibentuk oleh kelompok yang berbeda kepentingan, tujuan dan nilai. Manajer tidak sepakat mengenai prioritas permasalahan, dan mungkin tidak memahami atau membagi tujuan dan kepentingan dari manajer lain.
2.      Informasi bermakna ganda dan tidak lengkap. Usaha untuk menjadi rasional dibatasi oleh kompleksitas dari banyak masalah dan juga batasan pribadi dan organisasi.
3.      Manajer tidak memiliki kapsitas waktu, sumber daya atau mental untuk mengidentifikasi seluruh dimensi masalah dan memproses seluruh informasi yang relevan. Manajer berbicara satu sama lain bertukar pandangan untuk mengumpulkan informasi dan mengurangi ambiguitas.
4.      Manajer terlibat dalam debat saling dorong dan tarik untuk memutuskan tujuan dan mendiskusukan alternative. Keputusan adalah hasil dari tawar-menawar dan diskusi di antara anggota koalisi.[5]

            4)   LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Ada 6 langkah Pengambilan Keputusan, yaitu :
1.      Pengenalan Persyaratan Keputusan
Manajer menghadapi persyaratan sebuah keputusan dalam bentuk permasalahan atau peluang. Permasalahan timbul ketika pencapaian organisasi kurang dari yang telah ditetapkan. Sejumlah aspek kinerja tidak memuaskan. Peluang timbul ketika manajer melihat pencapaian potensial yang melebihi tujuan yang ditetapkan saat ini. Kesadaran akan permasalahan atau peluang merupakan langkah awal dalam alur keputusan.
2.      Diagnosis dan Analisis Penyebab
Ketika suatu permasalahan atau peluang diperhatikan seorang manajer, pemahaman dari situasi ini harus ditingkatkan. Diagnosis adalah langkah dalam proses pengambilan keputusan dimana manajer menganalisis faktor penyebab mendasar yang dikaitkan dengan situasi keputusan.
3.      Pengembangan Alternatif
Pengambilan keputusan mulai mempertimbangkan untuk melakukan tindakan, tahap ini adalah mengumpulkan solusi alternatif yang memungkinkan, yang akan merespon kebutuhan situasi dan mengoreksi penyebab dasar.[6] Dimana seorang manager mengumpulkan seluruh alternatif keputusan yang mungkin dapat dilaksanakan dengan memperhatikan tujuan perusahaan.[7]
4.      Pemilihan Alternatif yang Diinginkan
Setelah alternatif yang diinginkan dikembangkan, salah satu diantaranya harus dipilih. Pilihan keputusan adalah seleksi atas sejumlah alternatif arah tindakan yang menjanjikan. Alternatif terbaik adalah solusi yang paling sesuai dengan keseluruhan tujuan dan nilai organisasi dan mencapai hasil yang diinginkan dengan menggunakan sumber daya seminimal mungkin.
5.      Implementasi Alternatif yang Dipilih
Tahap Implementasi meliputi penggunaan kemampuan manajerial, administratif, dan persuasif untuk menjamin alternatif yang dipilih akan dijalankan.
6.      Evaluasi dan Umpan Balik
Pada tahap evaluasi dalam proses keputusan, pengambil keputusan mengumpulkan informasi yang memberi tahu mereka bahwa keputusan diimplemantasikan dan apakah hal itu efektif dilakukan untuk pencapaian tujuan.[8]Mampu mendahulukan mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting, merupakan salah satu factor yang dapat menunjang kesuksesan.[9]

             5)  METODE KEPUTUSAN
Pengamatan proses pengambilan keputusan dalam kelompok diarahkan pada cara atau metode dalam pengambilan keputusan. Suatu metode belum tentu lebih baik dibandingkan metode lainya. Setiap metode mempunyai kegunaanya sendiri-sendiri tergantung pada kelompoknya, waktu yang tersedia, dan fasilitas yang ada. Berikut disajikan enam metode pengambilan keputusan.
1.      Keputusan yang Kurang Tanggapan
Metode ini banyak digunakan dan sekaligus merupakan metode yang biasanya kurang diperhatikan. Seseorang mengemukakan suatu saran dan sebelum didiskusikan, orang lain mengusulkan gagasan lain. Prosesnya berulang dengan sendirinya sehingga akhirnya kelompok mendapatkan beberapa gagasan. Semua gagasan telah menjadi keputusan bersama, tanpa pertimbangan atau pengulasan. Sering terjadi dalam suatu konfrensi ada saran yang tidak pernah dipertimbangkan untuk didiskusikan.
2.      Keputusan dengan Otoritas
Suatu metode yang efisien jika pimpinan sidang atau rapat mendengarkan secara saksama gagasan anggotanya. Gagasan yang disampaikan didiskusikan, pimpinan mendengarkan dengan baik. Setelah pimpinan mendapatkan informasi yang cukup, ia kemudian memutuskan dengan menggunakan otoritasnya. Jika gagasan anggota sering tidak terakomodasi, maka muncul kemungkinan adanya anggota yang merasa kecewa sehingga pada rapat berikutnya dapat mengurangi partisipasi anggotanya dalam memberikan masukan.
3.      Keputusan Minoritas
Keputusan minoritas terjadi jika satu atau dua anggota kelompok dapat mengatasi anggota kelompok lainya. Penyebabnya ialah karena yang minoritas tersebut memiliki enam kekuasaan.
4.      Keputusan Mayoritas
Keputusan mayoritas merupakan metode pengambilan keputusan yang paling banyak dikenal orang di Negara yang menerapkan sistem demokrasi. Keputusan diadakan dengan cara pemungutan suara. Suara terbanyak adalah pemenangnya. Kelemahan metode ini adalah pemungutan suara cenderung mengarah ke pemungutan koalisi sehingga ada minoritas yang dikalahkan. Walaupun sebenarnya suara minoritas kadang-kadang lebih baik dari pada mayoritas.[10]
5.      Keputusan Konsensus
Keputusan konsensus merupakan metode yang banyak menyita waktu karena memberikan kesempatan kepada semua anggota kelompok untuk berkonsensus. Keputusan tidak selalu bulat karena kemungkinan ada sebagian kecil anggota kelompok yang tidak setuju.
6.      Keputusan Bulat
Metode ini yang paling ideal, tetapi sulit direalisasikan. Keputusan ini terjadi apabila semua anggota kelompok telah menyetujui keputusan yang akan diambil.[11]

                         6)  KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK
Ada lima syarat yang harus dipenuhi apabila anda memilih membuat keputusan bersama/kelompok daripada membuatnya sendirian :
1.      Apabila anda berpendapat bahwa pembuat keputusan bersama akan menghasilkan pilihan yang lebih banyak.
2.      Apabila pendapat ahli luar akan merupakan bantuan.
3.      Apabila anda ingin menaikkan standar etika dari keputusan yang akan dibuat.
4.      Apabila anda memerlukan dukungan kelompok untuk memantau pelaksanaan keputusan.
5.      Apabila anda merasa khawatir  orang-orang yang tergabung dalam kelompok akan menolak keputusan yang anda buat.[12]
Dalam pengambilan keputusan secara berkelompok, ada keuntungan dan kerugianya. Berikut ini akan di tampilkan beberapa keuntungan dan kerugian dalam pengambilan keputusan kelompok.
Ø  Keuntungan
1.      Suatu penghimpunan dan sejumlah pengetahuan yang dapat memberikan informasi dan pengalaman yang lebih banyak sebagai masukan untuk mengambil keputusan.
2.      Situasi dan masalah dilihat dari berbagai sudut pengetahuan dan pengalaman oleh setiap individu di dalam kelompok yang mempunyai berbagai keahlian.
3.      Didapatkanya suatu pengertian yang mendalam dalam mengambil tindakan dari berbagai alternatif berdasarkan pertimbangan rasional.
4.      Hasil akhir dari keputusan merupakan hasil keputusan bersama.
5.      Merupakan tempat pelatihan bagi anggota kelompok yang kurang memiliki pangalaman.

Ø  Kerugian
1.      Dapat terjadi adanya tekanan sosial dan melumpuhkan anggota kelompok yang kreatif dalam memberikan sumbangan pikiran.
2.      Kehendak akan permainan politik dari sebagian anggota kelompok yang mempunyai kepentingan pribadi dapat mengubah pikiran sehat.
3.      Kadang-kadang kegiatan kelompok berkurang karena didominasi oleh sekelompok kecil anggota yang berbicara keras dan banyak.
4.      Dikarenakan menang dalam adu argumentasi sehingga pertimbang-an yang kurang utama menjadi utama.
5.      Adakalanya karena kelompok bawahan kohesif menyebabkan adanya hasrat untuk melanggar pertimbangan dan mengevaluasi tindakan alternatif.

               7)   KEPUTUSAN DIPUTUSKAN SENDIRI
Adakalanya administrator harus memutuskan sendiri keputusan. Keputusan sendiri dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
(1)   Apabila administrator tidak dapat membagi tanggung jawabnya kepada orang lain atau kelompok, maka ia bertanggung jawab penuh atas keputusan itu. Contoh: rekomendasi guru yang akan dipindahkan, diberhentikan atau dipensiunkan, keputusan mengenai evektivitas mengajar guru. Keputusan mengenai penilaian kinerja guru.
(2)   Apabila waktu sangat mendesak dan diperlukan tindakan segera. Contoh: kecelakaan berat terhadap guru, tata usaha, dan siswa; permintaan izin yang tidak dapat ditunda, permintaan bahan yang tidak dapat ditunda.
(3)   Apabila sudah ada kesepakatan tentang prosedur kerja dengan bawahanya.
(4)   Apabila dilakukan spontan karena sudah pernah mengatasi kasus yang hampir sama. Keputusan ini disebut keputusan intuitif.[13]




[1] Wikipedia Indonesia.
[2] http://www.anneahira.com/pengambilan-keputusan.htm.
[3] Roy Bailey, 50 Activities for Managing Stress, Terence Jackson, 1994. (Edisi Indonesia : 50 Aktifitas Manajemen Stres, Jakarta: Binarupa Aksara, 1995) , hlm. 156.
[4] Richad L. Daft, Management,  Singapore; Thomson, Ed.6, 2003, hlm. 401-406. (Edisi Indonesia; Manajemen, penerbit Salemba Empat, Edisi 6).
[5] Ibid, hlm. 406-413.
[6] Ibid., hlm. 414-415.
[7] Adler Haymans Manurung, Pengambilan keputusan Pendekatan Kuantitatif, Jakarta: Rineka Cipta, Cet.1, 1991, hlm. 52.
[8] Ibid., hlm. 415-419.

[9] Theodore Isaac Rubin, 8 Strategi Keputusan yang Efektif, Semarang: Dahara Prize, Cet. III, 1993, hlm. 108.
[10] Husaini, Usman, MANAJEMEN Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, hlm 406-407.
[11] Ibid, hlm 407.
[12] Roger Dawson, The Confident Decision Maker, (Terjemahan Indonesia : Pembuat Keputusan yang Penuh Keyakinan, Batam: Ineraksara 1997), hlm. 285-286.
[13]Husaini, Usman, Op Cit, hlm 408.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar